22 Juni 2012, This gonna be Prodigious Day

Posted: Jumat, 22 Juni 2012 by Andriyanto Andri in
2

Kata sahabatku seperti itu. Yang sekarang terbayang adalah berlarian bersamanya dengan penuh suka cita. Sesekali ibunya memanggil untuk menyuapkan nasi dan dia menyambut dengan lahapnya. Setelah itu, ia berlari sekencang-kencangnya kembali ke pelukanku. Atau skenarionya diubah sedikit, "dan aku menyerobot suapan untuk anakku"... Kedengarannya lebih lucu...

Dua garis merah, katanya lirih. Mungkin dia berkata sambil gemetaran. Lucu juga, belum genap satu bulan kita menikah, dan Alloh mengamanahkan ini dengan begitu cepat, dan kami menyambutnya dengan penuh suka cita. Tumbuh dan kembanglah di rahim ibumu nak, kami akan selalu memberikan yang terbaik untukmu. Ayah berjanji...

If Opportunity doesn’t knock, build a door!!

Posted: Rabu, 30 Mei 2012 by Andriyanto Andri in
0



Mengapa kesempatan tidak datang-datang? Pasti ada sesuatu yang salah... Yakinlah itu! Cari apa penyebab mengapa kesempatan tak kunjung datang...

Berawal dari mendengar berita yang membahagiakan, membanggakan dari seorang teman. Sebuah loncatan yang sangat gemilang, dan kadang saya merefleksikan ke kehidupan saya. Kalau dia bisa sampai sejauh itu, kenapa saya tidak? Sekali lagi, benar adanya apa yang dikatakan Abraham Maslow tentang teori kebutuhan... Lalu saya berfikir, apa yang salah dengan semua ini? Apakah semuanya selalu bisa dijawab dengan sebuah kalimat, “sudah takdirnya”... Begitu pendek-kah pikiran kita? Jangan-jangan kalimat itu tak lain tak bukan adalah kalimat seorang pemalas yang tak punya target to achieve success karena terlalu nyaman di zona nyaman. Terlalu biasa menjadi orang biasa.

Saya yakin ada yang salah pada diri saya kenapa kesempatan belum juga datang. Sikap kita sehari-harikah? Do’a kita yang kurang? Atau memang kita tidak ditakdirkan untuk mendapatkan kesempatan tersebut karena Alloh lebih tahu. Alloh tahu kejadian masa datang, apakah kesempatan itu pada akhirnya akan memberikan maanfa’at atau justru malah ke-mudhorot-an. Yang terakhir ini perlu disebut jika kita merasa sudah begitu maksimal dalam berusaha. Sebelum benar-benar maksimal berusaha, jangan pernah bilang kata-kata ini. Itu versi saya. Silakan kalau ada yang berpendapat lain.

If Opportunity doesn’t knock, build a door!!
dan pintunya adalah sikap...

ATTITUDE atau sikap. Saya selalu melihat faktor ini dengan porsi yang cukup besar dibanding faktor lainnya yang akan menentukan kesuksesan/keberhasilan seseorang. Bagaimana mungkin, seseorang dengan track record yang buruk akan dipercaya oleh orang? Kepercayaan yang diberikan orang itu sangatlah mahal harganya, dan itu dibangun dari sikap kita sehari-hari. Bagaimana mungkin orang akan memberikan suatu tugas berat kepada kita, jika tugas ringan saja kita tidak dapat menyelesaikan dengan sempurna. Saya sedang berusaha merefleksikan ini semua kepada diri sendiri. Apa salahnya berbenah, bukankah perubahan itu adalah sebuah kekekalan...

Intinya, FOKUS terhadap segala sesuatu yang dipercayakan kepada kita. Jaga baik-baik amanah tersebut, dan berikanlah yang terbaik. Jaga asamu untuk berubah selalu menjadi lebih baik. Ide brilian saja tidak cukup, kemauan saja tidak cukup. Konsistensi diri sangatlah diperlukan, Going Concern...

Pak Wariyo - melaluinya, dan atas izin Alloh...

Posted: Senin, 28 Mei 2012 by Andriyanto Andri in
0


Selalu ada saja pelajaran yang bisa kita ambil dari setiap orang yang kita temui. Begitu kira-kira percakapanku kemarin dengan calon istri temanku di aplikasi hape multiplatform bernama whatsapp. Yaa, saya sependapat, sepakat dengan apa yang dia ucapkan. Namun dari sekian banyak orang yang telah aku kenal, ada satu nama yang benar-benar tak akan pernah terlupa. Pak Wariyo, itu nama lengkapnya. 

Saya tertarik untuk menjadikan ini sebuah postingan bersambung setelah benar-benar dibuat surprise dengan kedatangannya Senin, 28 Mei 2012 menghadiri pesta perkawinan saya. Meskipun sudah telat, dan meskipun sebenarnya mempelai laki-lakinya dikiranya bukan saya. Tapi itu justru menjadi tambah surprise. Dan saya juga bersyukur beliau kondangan telat, sehingga justru saya bisa buanyyaaak banget bercerita dengan beliau. Terakhir kali melihat beliau, sedih sekali rasanya. Kecelakaan di dekat kuburan Kompleks Makam Bupati Banyumas membuat kepala beliau harus dioperasi dan sempat agak kurang "isi"selama berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun. Saya sudah lupa, waktu kejadiannya tahun berapa.

Saya tidak tahu background keluarganya, tidak tahu tanggal lahirnya, tidak tahu ukuran sepatunya. Yang saya tau, Pak Wariyo akan menjadi guru kelas lima dan kelas enam sekolah tingkat dasarku. Yang saya tahu juga, Pak Wariyo orang yang tegas dan galak, banyak tidak disukai siswa bandel, tapi pelajaran apapun yang beliau terangkan, seharusnya siswa bandel sekalipun paham. Waktu itu, di sekolah dasar saya, ada sebuah kebijakan dimana agar dirasa intens dalam membimbing murid, guru kelas enam adalah guru yang sama di kelas lima. Saya hanya bisa bernalar sederhana dimana dengan kebijakan tersebut, guru akan lebih dekat dengan muridnya, dan pada akhirnya hubungan yang sudah baik ini dirasa akan memberikan pengaruh yang baik pula pada nilai EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Nasional) –sepertinya singkatannya itu. Kalau sekarang mungkin sama dengan yang namanya Ujian Nasional. Itu analogi saya sekarang, dulu waktu masih sekolah dasar, saya tidak bisa beranalogi. Alhasil, dari kebijakan tersebut, saya mendapat kesempatan untuk diajar pak Wariyo selama dua tahun untuk mengantarkan kami kepada suksesnya EBTANAS.

Banyak sekali cerita menarik tentang beliau, ataupun tentang saya yang melibatkan beliau. Kebetulan, saya termasuk alhamdulillaah siswa yang menonjol di kelas, sehingga kami sering berinteraksi baik terutama jika ada lomba-lomba antar sekolahan. Banyak sekali cerita menarik, dari cara beliau menyetir sepeda di setiap tikungan dengan kepala yang sedikit “tengeng”, sampai kepada penunjukan ketua kelas dadakan dengan hak prerogatif dari saya. Hahaha, atau bahkan cerita yang kalau diceritakan, saya sendiri malu mengatakannya. Pernah saya dibonceng dari Majingklak dengan sepeda onthel-nya menuju lomba mocopat di SD Negeri 1 Sudagaran Banyumas. Kalah, dan pulangnya ditraktir bakso inem di samping sekolahan. Pernah juga saya dipaksa menjadi wasit pertandingan sepakbola kelas enam melawan kelas lima, padahal beliau sendiri tahu betul saya buta akan peraturan persepakbolaan. Rasanya waktu itu sama saja seperti tidak ada wasit. Yang bermain, mereka sendirilah yang memutuskan adanya hands ball atau offside atau bahkan kick off setelah salah satu tim kebobolan. Saya sama sekali tidak tahu, hanya pegang peluit dan serasa tidak ada di lapangan luas itu. Every teacher teaches with their style. Menurutnya, sebagai laki-laki, saya harus bisa bermain yang namanya Sepak Bola.

Jadi teringat salah satu juri Indonesian Idol 2012, Ahmad Dani. Suatu ketika saya nonton Infotainment yang sedang bercerita Akhmad Dani dan ketiga anak laki-lakinya yang hobi sekali bola. Baginya, cowok harus suka bola. Kalau cowok nggak suka bola, berarti nggak wajar. Naah Looo... Saya suka sebenernya, tapi highlights-nya saja. Nonton sembilan puluh menit lebih dan pada akhirnya skor 0-0, rasanya akan begitu buang-buang waktu. Itu versi saya... Tapi sedikit banyak saya setuju dengan mas Dani. Waktu dulu saya kecil, terlahir sebagai anak paling bungsu, rasanya ayah ibu terlalu overprotected kepada saya. Sampailah kepada vonis paru-paru basah dari dokter ternama di Banyumas, dan sejak saat itu ibu saya melarang saya yang namanya hujan-hujanan, bermain sepak bola bersama teman-teman sebaya... Dan pada akhirnya, sekarang saya merasa ada sesuatu yang hilang pada diri saya di masa kecil, sesuatu yang seharusnya saya lakukan namun tidak saya lakukan, hingga berimbas sampai sekarang. Saya bisa dibilang tak memiliki teman di desa saya. Hahaha, and it's such a difficult thing that i can mend... Pengalaman adalah guru yang sangat berharga, dan saya pikir saya akan jadikan ini sebagai catatan untuk digarisbawahi dalam mendidik anak-anakku nantinya...

Masih tentang beliau. Saya masih ingat betul, setiap anak diminta mengerjakan soal IPA di buku LKS (Lembar Kerja Siswa). Segera diselesaikan dan dicocokan bersama. Saya juga masih ingat betul, siapa yang mengoreksi hasil pekerjaan saya, Nurbaeti namanya. Entah karena salah hitung atau salah mendengar kunci jawaban, pekerjaan saya dinilai terlalu tinggi, dan nilai sudah dibukukan oleh Pak Wariyo. Akhirnya saya maju ke depan, bilang kepada Pak Wariyo bahwa nilai saya tak sebagus itu. Beliau menanggapinya dengan muka datar. Yaa, memang tipikal orangnya seperti itu. Pelajaran berikutnya setelah IPA adalah PPKn, dan kebetulan materi pembahasan hari itu adalah kejujuran. Dan saya dipuji akan apa yang baru saja saya lakukan. Rasanya sangat senang mendapat pujian itu.

Naik ke kelas enam, saya masih mendapatkan kesempatan bertemu beliau. Dua tahun saya menjadi sekretaris I, sementara sekretaris II bernama Ribut Priyatin. Tugas sekretaris adalah menulis di papan tulis hitam (bukan blackboard) materi-materi dalam buku khusus beliau, di mana hanya beliau saja yang punya buku tersebut | blackboard setahu saya nama sebuah perusahaan rekaman pita suara dan kaset. Sekretaris dituntut untuk bisa memenuhi target beliau. "Pokoknya kalau saya kembali, yang ditulis sudah sampai halaman ini yaaa", begitu pesan beliau sambil melenggang ke luar kelas. Mungkin sedikit menghilangkan penat dengan guyonan ringan bersama guru-guru di kantor. Hal yang sangat tabu bagi kami untuk memasuki ruangan guru-guru. Tapi otak polos saya saat itu hanya berfikir melakukan yang terbaik apa yang diperintahkan pak guru. Kalau sekarang, mungkin saya bakal fotocopy aja materi itu. Satu hal positif yang saya dapat, buku-buku Pak Wariyo sering saya bawa pulang, dengan alasan saya belum mencatatnya dan akan mencatat di rumah. Dengan demikian, saya lebih dari sekadar pengetahuan teman-teman saya, karena saya bisa membaca buku-buku beliau di halaman lainnya yang tidak diperintahkan beliau untuk dituliskan di papan tulis. Sayapun pernah mendapatkan LKS dengan kunci jawaban masih menempel di halaman paling tengah buku. Tapi toh saya nggak mengambilnya. Saya hanya memfotokopi... aiiih, nggak laahhh. Saya kembalikan utuh karena kejujuran saya (saat itu).

Yang menarik adalah ketika kami sekretaris berdua saling bahu membahu mengejar target sang guru, beberapa anak bandel melempari kami dengan kapur tulis. Mereka yang malas mencatat selalu saja berteriak belum selesai menulis apa yang ada dalam papan, sementara kami ingin segera menghapus dan melanjutkan tugas mulia kami. Sekretaris II menangis dan saya dikucilkan gank nakal tersebut. Dan sampai pada akhirnya, kemarahan tak terbalaskan saya, saya laporkan kepada Pak Wariyo melalui sepucuk surat. Di dalamnya saya mengadu, mengadu sejadi-jadinya. Hahaha, konyol sekali keesokan harinya. Beliau langsung masuk dengan muka datar, lalu menyuruh ketua gank nakal tersebut menjadi ketua kelas. Itu keinginan saya dalam surat itu, dan saya cukup senang atas respon dari surat saya tersebut. Tapi toh cara tersebut tidak berhasil. Alih-alih dia bertaubat, malah makin menjadi-jadi...

Dialah Pak Wariyo, dengan bimbingannya, aku mampu meraih EBTANAS dengan nilai bagus, mempunyai modal untuk terus bersaing dengan siswa-siswa di SMP Negeri 1 Banyumas yang nota bene kebanyakan siswanya berasal dari sekolah dasar perkotaan... Dialah Pak Wariyo, yang ikut andil atas apa yang sudah saya capai sampai saat ini..

Selanjutnya
Pak Wariyo - Melon yang tertangguh

Gadai Emas di Bank BRI Syariah

Posted: Rabu, 23 Mei 2012 by Andriyanto Andri in
5

Assalamu'alaikum.. Sudah pernah denger istilah gadai? pasti sudah donk... Pertama denger, yang ada dalam otakku langsung keinget gambar semacam timbangan warna ijo, dan di bawahnya ada tulisan PEGADAIAN... Saya tidak tahu arti persis dari gadai dalam KBBI, yang jelas arti gadai menurut saya adalah sebuah cara untuk mendapatkan pinjaman berupa uang dengan menyerahkan jaminan kepada pihak yang meminjamkan berupa barang berharga yang kita miliki dan jikalau nantinya kita tidak bisa melunasi pinjaman, barang tersebut akan menjadi milik si pemberi pinjaman. Intinya seperti itu

Saya pertama kali kenal gadai itu ketika tetangga saya menggadaikan ladangnya untuk meminjam uang ke bu dhe saya. Otomatis hak menggarap sawah dan apa-apa hasil yang keluar dari ladang tetangga saya tersebut menjadi hak bu dhe saya selama tetangga saya belum bisa mengembalikan uang yang dipinjamnya. Tentunya dibarengi dengan perjanjian yang rinci agar dikemudian hari tidak terjadi kesalahpahaman. 

Kemudian belakangan ini, sudah ada dua sampai tiga tahun, di daerahku juga sangat marak yang namanya gadai motor. Orang cukup mempunyai uang tiga sampai empat juta untuk membawa Supra X, Jupiter Z, dan motor-motor mentereng lainnya. Jika masa gadai sudah selesai, mereka akan mencari lagi motor lain. Pokoknya enak deh, dengan uang segitu, setahun bisa berkali-kali gonta ganti motor keren berbagai selera... Muter-muter alun-alun banyumas, dikira anak orang kaya, punya motor banyak. Padahal aslinyaaaa... Hehehehe... Dan saya pikir, sistem gadai ini cenderung menguntungkan pihak yang memberi pinjaman. Apalagi si pemilik kendaraan tidak tau bagaimana motornya digunakan oleh pemilik sementara. Apakah ugal-ugalan, sering jatuh, jarang diservice, dan sebagainya. Enggak banget deh kalo aku yang jadi pemilik motornya.


Naah kemarin, saya akhirnya mencoba sendiri menjadi pihak yang menggadaikan. Sampai sekarang saya masih belum percaya, ternyata saya yang merasa masih terlalu pagi, sudah bisa melakukan perjanjian perikatan. Artinya saya sudah dewasa. Beneran deh. Kalau beli es durian, beli hape, beli kangkung, itu  mah nggak excited karena "kontrak" segera terputus. Naah, yang satu ini kan perikatannya lama. Dan saya sudah bisa melakukan perikatan ini dan diakui secara hukum. Saya dependent, bisa melakukan apa saja dan bertanggung jawab akan apa saja yang saya lakukan. Hahaha, agak lebay sih...

Haishhh, muqodimahnya panjang amaattt...
Intinya, saya ada sedikit barang dalam bentuk logam mulia antam. Dirasa-rasa karena saat ini harga emas benar-benar memprihatinkan, saya pikir alangkah sayangnya untuk menjualnya. Apalagi ada yang di tangan saya adalah emas pinjaman, dan si peminjam juga mintanya dibalikin dalam bentuk yang sama. Naah Loo, kalo harga besok tau-tau melambung, bisa berabe urusannya... Qqqqq.. Akhirnya saya putuskan menggadainya. Awalnya searching-searcing dan belum terlalu ngeh dengan gambarannya. Niatkan saja langsung dateng ke TKP, apa susahnya sih... :p

Pertama, saya dateng ke Pegadaian dekat rumah saya. Di sana saya meminta penjelasan secara rinci, bagaimana ketentuannya, biaya-biaya yang harus saya keluarkan, keamanannya jika ternyata di kemudian hari terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Pihak pegadaian menjelaskan adanya biaya administrasi awal yang terlayer-layer sesuai dengan besarnya utang. Untuk 25 gram logam mulia yang saya bawa dan ditaksir 10.000.000 rupiah, biaya adminstrasi sebesar 60.000 rupiah untuk satu kali transaksi 4 bulan-an. Istilahnya seperti biaya pendaftaran. Kemudian untuk biaya sewa tempat (istilahnya) dihitung per 15 (lima belas) hari dengan rate 1,15%. Artinya, satu bulan rate-nya adalah 2,3%. Jadi jika saya meminjam 10.000.000 rupiah, akan dikenakan biaya sewa tempat 115.000 per 15 hari. dan jika saya tidak bisa melunasi pokok pinjaman dalam jangka waktu empat bulan, saya masih bisa diberi kesempatan untuk memperpanjang, tentunya dengan melunasi biaya sewa tempat di empat bulan pertama. Kalau tidak, yaaa ati-ati aja bakalan dilelang.. :p... Karena saya benar-benar baru tau, saya pikir ada baiknya untuk mencari pembanding. Pergilah saya ke Purwokerto, dimana di sana lebih buanyaaak pilihan tempat yang bisa saya kunjungi, terutama bank-bank syariah.

Datanglah saya ke Bank BRI Syariah. Sebenernya pengen nyari Bank Mandiri Syariah, tapi kayaknya kok belum ada di Purwokerto. CMIIW... Pelayanan Bank emang spesial yaaa, patut diacungi kempol. Lho? kok kempol... Mereka kan menjual jasa, service jadi sesuatu yang mutlak dan that's the mort important thing. Itu yang sedang ditanamkan pada seluruh instansi pemerintah. Seharusnya pemerintah itu namanya berubah menjadi pelayan.

Pemerintah ==> Pe+me+perintah : orang yang suka memerintah... pelayan ==> pe+layan : orang yang suka melayani...  Bahasa inggrisnya aja public servant... Biar di otak para PNS, mereka itu nggak semena-mena, mereka harus sadar betul kalo yang menggaji mereka adalah rakyat... Bismillaah, semoga saya bisa...

Di Bank BRI Syariah, saya dijelaskan secara gamblang, mblang, mblang. Mereka mengenakan namanya biaya sewa tempat (istilah syariah-nya  saya lupa) -red per sepuluh hari. Dan satu bulan mereka mengenakan rate 1,25% dari pinjaman, jadi untuk sepuluh hari, tinggal dibagi tiga saja... Biaya administrasi awalpun dibuat berlayer-layer. Untuk pinjaman kurang dari 10.000.000 rupiah, biaya administrasi dikenakan sekitar 25.000 rupiah... Hanya saja penaksirannya cenderung lebih rendah menurutku. 25 gr ditaksir 10,5 juta rupiah dan pinjaman maksimal adalah 90% dari taksiran. Pinjaman minimal tidak ditentukan, akan tetapi perhitungan biaya sewa tempat bakalan dikalikan dengan 55% dari harga taksiran. Naah Looo, harus pinjem banyak aja, daripada malah rugi... :D

Jangka waktu pelunasan adalah sama seperti pegadaian. Per empat bulanan, jika tidak bisa menebus pokok pinjaman, bisa memperpanjang lagi dengan terlebih dahulu membayar biaya sewa tempat selama empat bulan dan membuat perjanjian kembali. Otomatis biaya administrasi muncul kembali... Dalam jangka waktu tersebut, saya bisa mencicil dan akan diperhitungkan sebagai pengurang pokok pinjaman. Ini akan berpengaruh kepada biaya sewa tempat. Akan tetapi, perlu diperhitungkan juga bahwa perjanjian akan dibuat kembali dengan pokok pinjaman yang berbeda, dan otomatis juga biaya adminstrasi akan muncul kembali...

Saya juga menyinggung soal keamanan, dan pihak bank alhamdulillah memberi jawaban yang bikin hati adem... Insya Alloh aman dan jika keadaan terburuk terjadi, kita akan diganti dengan logam mulia serupa, tentunya dengan nomor sertifikat yang berbeda... :D

Jadi simulasinya, jika saya pinjam 8 juta rupiah. Saya akan dikenakan biaya sewa tempat sebesar 100 ribu rupiah per bulan. Menurut saya itu lumayan murah, apalagi jika dibandingkan dengan pegadaian... Dan akhirnya saya parkirkan emas tadi di Bank BRI Syariah dan berharap bisa menebusnya segera... Bismillaah semoga saya dimudahkan rejekinya... Alloohumma Aamiinnn... Dan terakhir, sebagai syarat mutlak adalah harus buka rekening di situ... Yayayaya, lagu yang sama... :D Lumayan juga sih, saldo mengendap minimal 25.000, transfer ke manapun gratis, tarik tunai ATM Bersama juga gratis, dan dompet juga tambah tebel sama kartu ATM... Dikira orang kaya, padahaaallll... :hammer... Alhamdulillaah...


Update:
1. Saya sudah lihat sendiri Bank Syariah Mandiri di Purwokerto. Seperti apa kata Saudara Rizky, Bank Syariah Mandiri jusrtu muncul duluan dibanding Bank BRI Syariah. Cuma mungkin gara-gara letaknya yang kalah mencolok dibanding Bank BRI Syariah (menurutku), jadi saya nggak tahu... Padahal kata kakak iparku, lebih murah lhooo... coba yang mau gadai, ayooo ayooo, dibandingkan yaaa, trus kasih testimoni... :D

2. Alhamdulillaah saya sudah menebusnya. Asli nggak nyangka bakal nebus hanya dalam jangka waktu delapan hari. Tak pikir, bisa dilunasi sebelum lebaran sudah sangat bersyukur, eehhh kurang dari sepuluh hari malahan udah ada di tanganku lagi. Biaya sewa tempatnya sesuai dengan apa yang saya ilustrasikan di atas. Tidak ada yang berbeda.. Cihuyyyy, Alhamdulillaah banget. Siap untuk saya antarkan kepada sang pemilik aslinya... :ngakak 

Mahar

Posted: Selasa, 22 Mei 2012 by Andriyanto Andri in
2

Paling tidak harus ada 4 (empat) hal pokok yang menjadi rukun atas syahnya sebuah pernikahan. Bila salah satu dari semua itu tidak terpenuhi, batallah status pernikahan itu. Yaitu [1] Wali, [2] Saksi, [3] Ijab Kabul (akad) [4] Mahar...

Mumpung lagi edisi anget-angetnya menikah, rasa-rasanya nggak telat kalo saya cerita seputar pengalaman pribadi saya terkait mahar. Daripada ceritanya bulan-bulan depan, atau tahun-tahun depan, ketahuan istri, bisa dikira mau nikah lagi. Repot kan... hehehe. Saya mau bercerita pengalaman pernikahan kami yang sebenarnya sekarang belum terlaksana. InsyaAlloh Sabtu, 26 Mei 2012 besok... Semoga Alloh membuat semuanya lancar dan berkah... Allohumma Aamiinnn

Mahar, dikutip dari e-bok Fiqih Nikah Ust. Ahmad Sarwat, artinya adalah harta yang diberikan pihak calon suami kepada calon istrinya untuk dimiliki sebagai penghalal hubungan mereka. Adapun perintah memberikan mahar ini tertuang dalam Al-Qur'an Surat An-Nisa: 4 yang artinya sebagai berikut:
Berikanlah mas kawin kepada wanita sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari mas kawin itu dengan senang hati, maka makanlah pemberian itu yang sedap lagi baik akibatnya.(QS. An-Nisa: 4)

Di daerah kami, atau mungkin daerah anda-anda juga termasuk, umumnya mahar diberikan dalam bentuk seperangkat alat sholat. Bahkan, di KUA tempat kami akan melangsungkan pernikahan, berkas-berkas yang umumnya sudah kaya semacam form, secara default tercetak seperangkat alat sholat dan diberi baris kosong untuk mengisi perhiasan, uang, atau yang lainnya. Awalnya saya tidak mengambil pusing dengan yang satu ini, karena saya pikir sudah menjadi sesuatu yang sangat lumrah jika seseorang memberikan mahar seperangkat alat sholat, dan pernikahan mereka dinyatakan sah oleh para saksi.

Namun ketika saya berbincang-bincang, tentunya tak hanya dengan satu dua orang, mereka merasa terlalu murah kalau mahar diberikan hanya dalam bentuk seperangkat alat sholat. Di internet, saya coba searching-searching, banyak pula yang berpendapat, Ahhh, masa sih mempelai wanita belum punya seperangkat alat sholat? Ahhh, nantinya bakal jadi pajangan doank nggak? Lainnya berpendapat bahwa memberikan Al-Qur'an (biasanya termasuk di dalam seperangkat alat sholat, mempunyai makna psikologis, bahwa kita sebagai suami harus benar-benar memberikan (mengamalkan) apa yang ada dalam Al-Qur'an itu sebagai wujud memberi contoh kepada istri. Kalau nggak, gimana? Bakalan nggak sah nikahnya? Naah looo, ngeri banget kan?... Tapi saya pikir ulang, bukannya mau mahar Al-Quran atau bukan, yang namanya Al-Qur'an bukannya emang kita juga dituntut untuk mengamalkan semuanyaaa? :melet

Saya merasa bukan orang yang mempunyai kapasitas untuk membenarkan atau mengurang benarkan pernyataan mereka. Yang jelas, pada jamannya islam dulu, ada beberapa mahar yang saya rasa cukup unik. mahar dalam bentuk cincin dari besi, sebutir korma, sepasang sendal, jasa mengajarkan bacaan qur'an atau yang sejenisnya. Hal terpenting adalah kedua belah pihak ridho dan rela atas mahar itu.


Berikut adalah kutipan tanya jawab yang saya dapat dari Ustadz Ahmad Sarwat, Lc.
Sumber Perihal Seperangkat Alat Sholat dan Al-Qur'an sebagai Mas Kawin : http://www.salaf.web.id
========================================================================
Mahar adalah harta yang diberikan pihak calon suami kepada calon istrinya untuk dimiliki sebagai penghalal hubungan mereka. Mahar ini menjadi hak istri sepenuhnya, sehingga bentuk dan nilai mahar ini pun sangat ditentukan oleh kehendak istri. Bisa saja mahar itu berbentuk uang, benda atau pun jasa, tergantung permintaan pihak istri.

Mahar ini pada hakikatnya dinilai dengan nilai uang, sebab mahar adalah harta, bukan sekedar simbol belaka. Itulah sebabnya seorang dibolehkan menikahi budak bila tidak mampu memberi mahar yang diminta oleh wanita merdeka. Kata ‘tidak mampu’ ini menunjukkan bahwa mahar di masa lalu memang benar-benar harta yang punya nilai nominal tinggi. Bukan semata-mata simbol seperti mushaf Al-Quran atau benda-benda yang secara nominal tidak ada harganya.

Hal seperti ini yang di masa sekarang kurang dipahami dengan cermat oleh kebanyakan wanita muslimah. Padahal mahar itu adalah nafkah awal, sebelum nafkah rutin berikutnya diberikan suami kepada istri. Jadi sangat wajar bila seorang wanita meminta mahar dalam bentuk harta yang punya nilai nominal tertentu. Misalnya uang tunai, emas, tanah, rumah, kendaraan, deposito syariah, saham, kontrakan, perusahaanatau benda berharga lainnya.

Adapun mushaf Al-Quran dan seperangkat alat shalat, tentu saja nilai nominalnya sangat rendah, sebab bisa didapat hanya dengan beberapa puluh ribu rupiah saja. Sangat tidak wajar bila calon suamiyang punya penghasilan menengah, tetapi hanya memberi mahar semurah itu kepada calon istrinya.

Akhirnya dengan dalih agar tidak dibilang ‘mata duitan’, banyak wanita muslimah yang lebih memilih mahar semurah itu. Lalu diembel-embeli dengan permintaan agar suaminya itu mengamalkan Al-Quran. Padahal pengamalan Al-Quran itu justru tidak terukur, bukan sesuatu yang eksak. Sedangkan ayat dan hadits yang bicara tentang mahar justru sangat eksak dan bicara tentang nilai nominal. Bukan sesuatu yang bersifat abstrak dan nilai-nilai moral.

Justru embel-embel inilah yang nantinya akan merepotkan diri sendiri. Sebab bila seorang suami berjanji untuk mengamalkan isi Al-Quran sebagai mahar, maka mahar itu menjadi tidak terbayar manakala dia tidak mengamalkannya. Kalau mahar tidak terbayar, tentu saja akan mengganggu status perkawinannya.
========================================================================

Setelah membaca sekali lagi kata-kata "sebagai pemberian dengan penuh kerelaan" dalam surat An-Nisa: 4 tersebut, saya pikir kalau hanya seperangkat alat sholat saja, untuk ukuran saya, rasanya agak gimanaaa gitu.. Mungkin kalau dinominalkan, harganya sekitar 150.000 - 300.000. Bukan bermaksud saya sombong, hanya saja beneran deh kalau dirasa-rasa. Akhirnya saya tambah maharnya, tidak terlalu memberatkan saya dan insyaAlloh saya rela dan dia ridho... Qqqqqqq... Semoga setiap yang mau menikah diluruskan niatnya dalam hal mahar ini. Dijauhkan dari yang namanya mencari kesombongan maupun gengsi.. Tapi sekali lagi, kalau misal sang calon istri ridho, nggak jadi masalah... bukankah ada hadist Nabi: Dari Aisyah Ra bahwa Rasulullah SAW bersabda," Nikah yang paling besar barokahnya itu adalah yang murah maharnya" (HR Ahmad 6/145)... CMIIW

ROSA - Indonesian Idol 2012

Posted: Kamis, 17 Mei 2012 by Andriyanto Andri in
0

Indonesian Idol kembali ada... Setelah vakum di 2011, sekarang kembali lagi dan berhasil menjadi tontonan yang paling menyedot rating. Saya jagokan Rosa, meskipun sadar betul kalo Regina lebih dan lebih bagus dari Rosa... Tapi melihat perjuangannya yang sering muncul tenggelam di zona voting sms tidak aman, saya makin suka dan makin mendukung... Apalagi kalau denger suaranya yang serak-serak becek merdu... Mulai suka setelah melihat penampilannya di TOP 15. Cekibrot kakak!



Kalau yang ini penampilannya di Babak 8 Besar, dan sekarang melaju ke 7 Besar! Go ROSA Go!!!... Jangan lupa ketik ROSA kirim ke 9288... Semoga minggu depan masih melaju terus dan semakin baik dari minggu ke minggu... Qqqqqqq



#update... ROSA terpaksa harus puas di posisi 6 besar Indonesian Idol 2012. Sedikit kesedihan di hari kebahagiaan... Hehehe

Rasanya baru kemarin

Posted: by Andriyanto Andri in
0












Rasanya baru kemarin...

Pulang sekolah dengan kempol melepuh, ditempel ke knalpot motor sama temen SD yang super nakal...
Ngumpet takut dimarahin gara-gara nyangsangin balon gas sampe ke langit-langit rumah...
Gelut rebutan layangan dengan teman sebaya...
Berlarian mengejar belalang, konsentrasi penuh mencari letak suara jangkrik...
Rasanya baru kemarin...

Rasanya baru kemarin,
Pulang pergi 14 km dengan sepeda, pagi dan sore, senin sampai sabtu... 
beraksi di depanmu, seolah seorang cross rider. Dan ketika lututku mencium aspal, bibirmu mencibir penuh kebencian sekaligus kebahagiaan...
Gerimis sore, privat gratis persiapan lomba dan sekaligus diantar pak Donny pulang ke rumah...

Rasanya baru kemarin, 
pertama kalinya ke rumahmu, hem hitam dan celana panjang...
dan minggu depan, untuk kesekian kalinya aku kerumahmu, rumahku juga nantinya...